Postingan

Menampilkan postingan dengan label hanya kata

You're ten and I'm zero

Gambar
Malam ini, hal yang paling aku benci adalah melihat namamu dan fotomu di home facebook-ku. Kenapa? Aku ingin menghilangkanmu dari memoriku, tapi.. Ya lagi-lagi aku hanya bisa mengatakan "tapi". Akhirnya untuk yang kesekian kalinya aku tidak bisa menahan tanganku untuk mengklik namamu, dan akhirnya munculah profilmu. Lengkaplah ku lihat berbagai informasi tentangmu. Foto-fotomu dengan teman-temanmu, update statusmu, dan wall dari teman-temanmu, semakin seru untuk ku jelajahi. Sampai akhirnya aku sadar, kamu telah menjadi "seseorang". Kamu semakin hebat, gayamu, prestasimu, membuat banyak orang ingin mengenalmu dan lebih dekat denganmu. Kamu semakin "tinggi" sekarang. Tiba-tiba aku melihat diriku sendiri dengan cermin ajaib, aku masih 0! Belum ada apa-apa yang bisa aku pamerkan. Aku masih menjadi seseorang yang biasa-biasa saja, tak ada yang spesial. Nyaliku menjadi kerdil, aku tidak pantas bersamamu. Itu yang ku tanamkan dalam hati. Seperti potongan lirik...

Menatapnya

Mungkin sekitar tiga tahun yang lalu, aku menatapnya dari balkon lantai dua sekolahku. Hanya dia di mataku, wajah putih seperti malaikat. Dia sedang bermain basket di lapangan, tapi bukan permainan basketnya yang aku lihat, tapi dia. Tak peduli gerak-geriknya, aku hanya ingin menatapnya di siang itu. Jantungku berdegup, padahal jarakku dengannya sangat jauh. Entahlah, aku merasa dia sangat dekat, tangannya yang selalu dingin saat aku mengenggamnya seolah masih aku rasakan. Saat itu aku merasa bahagia dan sedih. Bahagia karena aku beruntung bisa bersekolah dengannya dua kali, jika tidak mana bisa aku menatapnya dari kejauhan seperti di siang itu. Rasa sedih, ya dia sudah berubah. Dia sudah menjadi orang lain. Aku yang dulu bersama-sama dia, sekarang hanya bisa seperti secret admirernya saja. Dia tak mau menjawab panggilanku, salah jika aku berpura-pura menjadi tak mengenal dia juga? Hanya bisa menjatuhkan air mata rasanya, dan berharap pintu lorong waktu itu ada! Dan aku bisa bersam...

Untitled

Gambar
Sepi itu masih terasa,  menggelayuti setiap hentakan.  Mendung seakan menjadi tema, tapi matahari pun tak letih menemani,  seolah sepi itu tidak nyata.  Tapi di dalam sini tak bisa berbohong apa yang terasa,  tangis itu bisa pecah kapan saja saat di puncaknya.  Meledak, sulit ditahan.  Sekali pun dicoba menahan, justru sekarat dan sesak yang ada.  Seperti oksigen yang sudah berganti menjadi asap hitam.  Ingin sekali mencoba memekik, tapi justru dimaki.  Siapa yang mau dengar?  Diam.  Hanya berpura bisu sambil membunuh waktu.  Menunggu saat itu tiba.  Saat embun dan pelangi kembali mengiringi tawa para malaikat kecil.